Selasa, 14 Juli 2009

Aneh

Aneh, kata yang tanpa kita sadari kadang kita dan temen-temen bilang kepada seseorang kalau orang itu bersikap tidak lazim atau tidak seperti biasanya. Trus apa ada yang salah dengan kata aneh ini?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata aneh yang terlontar dari mulut teman kita. Memang kadang akan sedikit membuat kita ngerasa ga enak aja, tapi bagi sebagian orang yang mungkin lebih sensitif akan bisa berakibat fatal, yang lebih dari rasa kurang nyaman atau ga enak saja tapi malah bisa memicu amarah juga dan bisa juga berujung pada pertengkaran.

Jadi saran saya kalau temen-temen yang kebetulan ada seorang temen bersikap aneh (tidak seperti biasanya) jangan langsung bilang dia aneh, tapi alangkah baiknya kalau diperhalus sedikit dengan ungkapan "kok kayaknya hari ini kamu tidak seperti biasanya?" dan atas pertanyaan itu biasanya diapun menjawab "ah masak! ga biasa gimana maksud kamu?". Trus barulah temen-temen jelasin dimana letak hal yang menurut temen tidak seperti biasanya. yah bukankah mencegah (antisipasi) lebih baik dari pada mengobati?

Jumat, 10 Juli 2009

untuk wanita yang akan kunikahi

Untuk wanita yang akan kunikahi, “taukah kau siapa diriku?”
“Tidak, emang kamu siapa?”
“Aku hanyalah orang biasa yang juga pengen merasakan indahnya keluarga yang diisi dengan canda tawa yang penuh dengan cinta.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “taukah kau siapa bapakku?”
“Tidak, emang siapa bapakmu?”
“Bapakku adalah seorang pahlawan yang mencari sesuap nasi untuk keluarga dengan merelakan tubuhnya kotor karena lumpur di sawah dan juga panasnya terik mentari di siang hari.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “taukah kau siapa ibuku?”
“TIdak, emang siapa ibumu?”
“Ibuku adalah seorang pekerja keras nan tangguh yang membantu mencari nafkah suaminya untuk keluarga dengan memanfaatkan kemampuannya mengolah bahan mentah menjadi makanan yang lezat untuk selanjutnya dijual kepada para penggila makanan.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “taukah kau rumahku?”
“Tidak, emang kenapa rumahmu?”
“Rumahku adalah istana yang sangat indah penuh kedamaian, walaupun hanya beralaskan tanah dan berdindingkan papan.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “taukah kau dengan saudaraku?”
“Tidak, emang kenapa dengan saudaramu?”
“Saudaraku adalah bidadari-bidadari kecil yang memberiku kekuatan untuk bisa terus maju meraih angan dan cita-cita yang selama ini menjadi bunga tidur disetiap malam-malamku.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “bolehkah aku bertanya kepadamu?”
“Iya boleh, silahkan?”
“Kenapa kau mencintaiku?”
“Simpel saja, karena kau juga mencintaiku.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “tidak menyesalkah kau mencintaiku?”
“Kenapa harus menyesal?”
“Bukankah kau sudah tau siapa bapakku?”
“Iya tau, Beliau merupakan pahlawan bagimu, dan akupun percaya beliau juga bisa menjadi pahlawan untukku juga.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, “beranikah kau arungi kehidupan bersamaku?”
“Kenapa ga berani?”
“Bukankah kau sudah tau siapa ibuku?”
“Iya tau, bukankah ibumu juga wanita dan diapun telah membuktikan ketangguhannya dalam mengarungi kehidupan ini, dan akupun yakin kau mewarisi sifat ibumu, jadi apalagi yang harus khawatirkan?”

Untuk wanita yang akau kunikahi, “maukah kau hidup dalam ketidaknyamanan?”
“Kenapa tidak nyaman?”
“Bukankah kau sudah tau rumahku?”
“Iya tau, rumahmu adalah istana yang penuh kedamaian bagimu, dan akupun yakin kedamaian itu akan semakin bertambah dengan hadirnya diriku dalam istanamu itu.”

Untuk wanita yang akan kunikahi, ”siapkah kau hidup dalam kegaduhan?”
“Memang kenapa dengan kegaduhan?”
“Bukankah kau sudah tau bagaimana saudara-saudaraku?”
“Iya tau, mereka semua bagai bidadari-bidadari kecilmu yang merupakan kekuatan bagimu, dan akupun yakin merekapun akan menjadi bidadari-bidadari kecilku dalam menunggu malaikat kecil dalam rahimku nanti.

Untuk wanita yang akan kunikahi, “boleh kah aku bilang sesuatu?”
“Iya boleh, apa yang akan kau katakan?”
“Kaulah wanita yang selama ini aku cari, I Love U.”
“Terimakasih, kaupun pria yang selama ini aku damba, I Love U Too.”

apa yang salah dengan cinta?

Aku ingin bicara masalah blog yang aku kelola saat ini yang baru-baru ini kebanyakan isinya bertemakan tentang cinta dan kangen. Mungkin karena adanya tema-tema tentang cinta akhir-akhir ini, yang akhirnya membuat salah satu temanku bertanya kepadaku :
“Mas, kenapa sih, blognya sekarang jadi bernuansa cinta dan kangen?”
“Yah hidup dengan cinta itu lebih indah daripada berlumuran benci dan amarah, aku ingin kelak hanya mengenal cinta saja.” Jawabku
“Dulu aku juga gitu mas, hidup dengan cinta ga peduli dengan penilaian orang lain, tapi sekarang aku merasakan hidup kok melelahkan ya mas?” jawabnya dengan nada pasrah seperti prajurit yang telah kalah di medan pertempuran.
“Sebenarnya aku hanya ingin mengenal cinta, bukan benci dan amarah, kalaupun ada benci dan marah, aku ingin benci dan marahku itu hanya karena kecintaanku kepada-Nya. Btw apa ada yang salah dengan cinta?” tanyaku padanya.
“Ga ada yang salah mas dengan cinta, tapi aku merasa sudah capek aja, sekali-kali aku juga pengen merasakan benci dan marah gitu.”
“Hmmm.” Akupun diam tanpa suara. Sejenak aku berpikir kenapa banyak orang yang dulunya sangat mengagungkan cinta, tapi sekarang berbalik membecinya dan memusuhinya bahkan ada yang trauma untuk menerima cinta di hatinya, karena apa yang dulu sangat dicintainya sekarang telah hilang dari dekapannya?

Dalam alam pikirkupun aku mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, obrolan kecil tentang cinta yang bisa merubah seseorang hanya dalam hitungan detik saja. Kucoba untuk menerka-nerka sebab kenapa orang begitu mudah mengubah cinta menjadi benci yang tiada disangka dan diduga?.

Kalau boleh kutarik benang merah, ternyata cinta itu berhubungan erat dengan hati sedang hati itu adalah cerminan diri yang diberikan oleh-Nya. Jadi sebenarnya cinta sejati itu hanya milik-Nya yang menguasi segala rasa yang ada, bahkan rasa cinta kepada lawan jenispun timbul karena augerah-Nya. Maka beruntunglah bagi orang yang telah diberi anugerah untuk mencintai sang pujaan hati, namun sekali lagi janganlah lengah dengan cinta itu, karena sejatinya cintamu itu hanyalah untuk-Nya dan cintamu kepada sang pujaan itu sebaiknya kau dasari atas kecintaanmu kepada-Nya, bukan hanya semata-mata ingin memuaskan nafsu belaka.

Anda Pengunjung ke :

Website counter